Jumat, 30 Desember 2011

Sungai di Bawah Laut

Subhanallah…. Ada Sungai dalam Laut..!

11 Mei
Maha Suci Allah yang Maha Menciptakan
Sungai dalam Laut
“Akan Kami perlihatkan secepatnya kepada mereka kelak, bukti-bukti kebenaran Kami di segenap penjuru dunia ini dan pada diri mereka sendiri, sampai terang kepada mereka, bahwa al-Quran ini suatu kebenaran. Belumkah cukup bahwa Tuhan engkau itu menyaksikan segala sesuatu. ” (QS Fushshilat : 53)

“Dan Dialah yang membiarkan dua laut mengalir (berdampingan) ; yang ini tawar lagi segar dan yang lain masin lagi pahit; dan Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang menghalangi.” (Q.S Al Furqan:53)
Jika Anda termasuk orang yang gemar menonton rancangan TV `Discovery’ pasti kenal Mr.Jacques Yves Costeau , ia seorang ahli oceanografer dan ahli selam terkemuka dari Perancis. Orang tua yang berambut putih ini sepanjang hidupnya menyelam ke perbagai dasar samudera di seantero dunia dan membuat filem dokumentari tentang keindahan alam dasar laut untuk ditonton di seluruh dunia.
Pada suatu hari ketika sedang melakukan eksplorasi di bawah laut, tiba-tiba ia menemui beberapa kumpulan mata air tawar-segar yang sangat sedap rasanya kerana tidak bercampur/tidak melebur dengan air laut yang masin di sekelilingnya, seolah-olah ada dinding atau membran yang membatasi keduanya.

Fenomena ganjil itu memeningkan Mr. Costeau dan mendorongnya untuk mencari penyebab terpisahnya air tawar dari air masin di tengah-tengah lautan. Ia mulai berfikir, jangan-jangan itu hanya halusinansi atau khalayan sewaktu menyelam. Waktu pun terus berlalu setelah kejadian tersebut, namun ia tak kunjung mendapatkan jawapan yang memuaskan tentang fenomena ganjil tersebut.
Sampai pada suatu hari ia bertemu dengan seorang profesor Muslim, kemudian ia pun menceritakan fenomena ganjil itu. Profesor itu teringat pada ayat Al Quran tentang bertemunya dua lautan ( surat Ar-Rahman ayat 19-20) yang sering diidentikkan dengan Terusan Suez . Ayat itu berbunyi “Marajal bahraini yaltaqiyaan, bainahumaa barzakhun laa yabghiyaan.. .”Artinya: “Dia biarkan dua lautan bertemu, di antara keduanya ada batas yang tidak boleh ditembus.” Kemudian dibacakan surat Al Furqan ayat 53 di atas.
Selain itu, dalam beberapa kitab tafsir, ayat tentang bertemunya dua lautan tapi tak bercampur airnya diertikan sebagai lokasi muara sungai, di mana terjadi pertemuan antara air tawar dari sungai dan air masin dari laut. Namun tafsir itu tidak menjelaskan ayat berikutnya dari surat Ar-Rahman ayat 22 yang berbunyi “Yakhruju minhuma lu’lu`u wal marjaan” ertinya “Keluar dari keduanya mutiara dan marjan.” Padahal di muara sungai tidak
ditemukan mutiara.
Terpesonalah Mr. Costeau mendengar ayat-ayat Al Qur’an itu, melebihi kekagumannya melihat keajaiban pemandangan yang pernah dilihatnya di lautan yang dalam. Al Qur’an ini mustahil disusun oleh Muhammad yang hidup di abad ke tujuh, suatu zaman saat belum ada peralatan selam yang canggih untuk mencapai lokasi yang jauh terpencil di kedalaman samudera. Benar-benar suatu mukjizat, berita tentang fenomena ganjil 14 abad yang silam
akhirnya terbukti pada abad 20. Mr. Costeau pun berkata bahawa Al Qur’an memang sesungguhnya kitab suci yang berisi firman Allah, yang seluruh kandungannya mutlak benar. Dengan seketika dia pun memeluk Islam.

Maha Suci Allah yang Maha Menciptakan
Sungai dalam Laut

“Dan Dialah yang membiarkan dua laut mengalir (berdampingan) ; yang ini tawar lagi segar dan yang lain masin lagi pahit; dan Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang menghalangi.” (Q.S Al Furqan:53)
Jika Anda termasuk orang yang gemar menonton rancangan TV `Discovery’ pasti kenal Mr.Jacques Yves Costeau , ia seorang ahli oceanografer dan ahli selam terkemuka dari Perancis. Orang tua yang berambut putih ini sepanjang hidupnya menyelam ke perbagai dasar samudera di seantero dunia dan membuat filem dokumentari tentang keindahan alam dasar laut untuk ditonton di seluruh dunia.
Pada suatu hari ketika sedang melakukan eksplorasi di bawah laut, tiba-tiba ia menemui beberapa kumpulan mata air tawar-segar yang sangat sedap rasanya kerana tidak bercampur/tidak melebur dengan air laut yang masin di sekelilingnya, seolah-olah ada dinding atau membran yang membatasi keduanya.

Fenomena ganjil itu memeningkan Mr. Costeau dan mendorongnya untuk mencari penyebab terpisahnya air tawar dari air masin di tengah-tengah lautan. Ia mulai berfikir, jangan-jangan itu hanya halusinansi atau khalayan sewaktu menyelam. Waktu pun terus berlalu setelah kejadian tersebut, namun ia tak kunjung mendapatkan jawapan yang memuaskan tentang fenomena ganjil tersebut.
Sampai pada suatu hari ia bertemu dengan seorang profesor Muslim, kemudian ia pun menceritakan fenomena ganjil itu. Profesor itu teringat pada ayat Al Quran tentang bertemunya dua lautan ( surat Ar-Rahman ayat 19-20) yang sering diidentikkan dengan Terusan Suez . Ayat itu berbunyi “Marajal bahraini yaltaqiyaan, bainahumaa barzakhun laa yabghiyaan.. .”Artinya: “Dia biarkan dua lautan bertemu, di antara keduanya ada batas yang tidak boleh ditembus.” Kemudian dibacakan surat Al Furqan ayat 53 di atas.
Selain itu, dalam beberapa kitab tafsir, ayat tentang bertemunya dua lautan tapi tak bercampur airnya diertikan sebagai lokasi muara sungai, di mana terjadi pertemuan antara air tawar dari sungai dan air masin dari laut. Namun tafsir itu tidak menjelaskan ayat berikutnya dari surat Ar-Rahman ayat 22 yang berbunyi “Yakhruju minhuma lu’lu`u wal marjaan” ertinya “Keluar dari keduanya mutiara dan marjan.” Padahal di muara sungai tidak
ditemukan mutiara.
Terpesonalah Mr. Costeau mendengar ayat-ayat Al Qur’an itu, melebihi kekagumannya melihat keajaiban pemandangan yang pernah dilihatnya di lautan yang dalam. Al Qur’an ini mustahil disusun oleh Muhammad yang hidup di abad ke tujuh, suatu zaman saat belum ada peralatan selam yang canggih untuk mencapai lokasi yang jauh terpencil di kedalaman samudera. Benar-benar suatu mukjizat, berita tentang fenomena ganjil 14 abad yang silam
akhirnya terbukti pada abad 20. Mr. Costeau pun berkata bahawa Al Qur’an memang sesungguhnya kitab suci yang berisi firman Allah, yang seluruh kandungannya mutlak benar. Dengan seketika dia pun memeluk Islam.

Allahu Akbar…! Mr. Costeau mendapat hidayah melalui fenomena teknologi kelautan. Maha Benar Allah yang Maha Agung. Shadaqallahu Al `Azhim.Rasulullah s.a.w. bersabda: “Sesungguhnya hati manusia akan berkarat sebagaimana besi yang dikaratkan oleh air.” Bila seorang bertanya, “Apakah caranya untuk menjadikan hati-hati ini bersih kembali?” Rasulullah s.a.w. bersabda, “Selalulah ingat mati dan membaca Al Quran.”
Jika anda seorang penyelam, maka anda harus mengunjungi Cenote Angelita, Mexico. Disana ada sebuah gua. Jika anda menyelam sampai kedalaman 30 meter, airnya air segar (tawar), namun jika anda menyelam sampai kedalaman lebih dari 60 meter, airnya menjadi air asin, lalu anda dapat melihat sebuah “sungai” di dasarnya, lengkap dengan pohon dan daun daunan.
Setengah pengkaji mengatakan, itu bukanlah sungai biasa, itu adalah lapisan hidrogen sulfida, nampak seperti sungai… luar biasa bukan? Lihatlah betapa hebatnya ciptaan Allah SWT

Sejarah Lagu Ulang Tahun (Happy Birthday To You)


Melodi dari "Happy Birthday to You" (juga dikenal sebagai "lagu ulang tahun") ditulis pada tahun  1890 an oleh seorang wanita Amerika dengan nama Mildred Hill.

Awalnya adiknya Patti, yang adalah seorang guru, menempatkan kata-kata "Selamat pagi guru ku, semoga ini pagi yang baik untuk Anda" agar sesuai melodi. Lagu itu akhirnya populer selama bertahun-tahun dan dinyanyikan di sekolah-sekolah di seluruh AS.

Empat puluh tahun kemudian, diyakini bahwa Patti mengganti dengan kata-kata "Happy Birthday, Happy Birthday, Happy Birthday Dear Happy Birthday to You" yang kemudian menjadi sangat terkenal.

Seluruh lagu kemudian diterbitkan pada tahun 1935. Lagu itu kemudian dipopulerkan pada tahun 1930, ketika dinyanyikan dalam Broadway production “As Thousands Cheer” dan sejak itu menjadi mega-hit klasik sepanjang masa.

Satu berita yang menarik : Lagu "Happy Birthday to You" (lirik dan melodi) masih di bawah perlindungan hak cipta, sehingga setiap kali Anda mendengarnya dinyanyikan di TV atau radio, royaltinya masih dibayarkan kepada penerbit (Warner Chapel, di AS).
 


Selasa, 27 Desember 2011

Zakat Produktif, Bolehkah ??

Deskripsi masalah :
Zakat mal, selain bertujuan untuk tazkiyah al-mal (mensucikan harta benda dari hak-hak fakir miskin), juga berfungsi mensejahterakan kaum dhu’afa` atau mengentas kemiskinan. Atas dasar inilah, muncul ide dan inisiatif dari beberapa distributor zakat (baca ‘amil) untuk membuka usaha di bidang industri yang biaya operasionalnya diambilkan dari dana zakat mal. Sementara omsetnya (penghasilan) di-tasharuf-kan kepada kaum dhu’afa` yang terklasifikasi dalam delapan ashnaf. Upaya ini, sekali lagi dilakukan dengan pertimbangan bisa lebih memberikan konstribusi secara kontinyu bagi kesejahteraan para mustahiq zakat.
Pertanyaan :
Bagaimanakah hukum mentasharufkan zakat mal dengan tehknik tersebut ?
Jawaban :
Haram, jika dana zakat tersebut belum diterima oleh mustahiq zakat.
Referensi :
نهاية الزين ص: 178 دار الفكر
ولو نوى الزكاة مع الإفراز فأخذها صبي أو كافر ودفعها لمستحقها أو أخذها المستحق لنفسه ثم علم المالك بذلك أجزأ وبرئت ذمته منها لوجود النية من المخاطب بالزكاة مقارنة لفعله ويملكها المستحق لكن إذا لم يعلم المالك بإعطاء الصبي أو الكافر لمستحقها وجب عليه إخراجها وتقع الأولى تطوعا ولو أفرز قدرها ونواها لم يتعين ذلك القدر المفرز للزكاة إلا بقبض المستحق له سواء أكانت زكاة مال أم بدن والفرق بين ذلك والشاة المعينة للتضحية أن المستحقين للزكاة شركاء للمال بقدرها فلا تنقطع شركتهم إلا بقبض معتبر وجاز كما قال الجرجاني لكل من أحد الشريكين إخراج زكاة المشترك بغير إذن شريكه الآخر ومن ذلك يؤخذ أن نية أحدهما تغني عن نية الآخر وذلك إذا أخرج من المشترك و جاز التوكيل في أداء الزكاة لأنها حق مالي فجاز أن يوكل فيه كديون الآدميين ولذلك جاز توكيل كافر وصبي أي مميز في إعطائها لمعين أي يشترط لجواز توكيل دفع الزكاة إلى من ذكر تعيين المدفوع إليه ويشترط لبراءة ذمة الموكل العلم بوصولها للمستحق ومثل الصبي المميز السفيه والرقيق في ذلك
غاية تلخيص المراد ص: 50-51 دار الفكر
(مسألة) لو أفرز قدر الزكاة بنيتها لم تتعين إلا بالقبض المستحق لها بإذن المالك عند حج وخالفه م ر فقال ولو نوى الزكاة مع الإفراز فأخذها صبى أو كافر ودفعها لمستحقها أو أخذها الممستحق ثم علم المالك اجزأته لكن اعترضه الرشيدى بقوله انظر هذا مع ما مر له أنه لابد من تعيين المدفوع إليه لهما اى الصبى والكافر إهـ
الشرقاوي على التحرير ألجزء الثانى ص :51 الحرمين
(ق قوله ورزق سلطان) بفتح الراء أى مرزوقه وعطائه وقوله بأن عين لمستحق قدر حصته أى وأفرزت له ولو مع غيره بأن أفرز رزق طاْقة وهو منهم فباع حصته منه ولا بد من رؤيته ما أفرز له فإذا أفرز الجندى أو نحوه على وجه التمليك قدر نصيبه او أقل فله بعد رؤيته بيعه ولم يقبضه رفقا به ومن ثم ملكه بمجرد الإفراز أما قبل الإفراز كما يقع آلآن كثيرا أن الشخص يأخذ تذكرته بقدر معلوم ويبيع مافيها لآخر فلا يصح لأن غاية ما فى التذكرة الاذن من السلطان أو نائبه لمتولى بيت المال أن يدفع لفلان كذا وليس ذلك إفرازا بل الإفراز أن يقول أعطيت لفلان هذا القدر المعين كعشرة أنصاف وأما قوله جعلت له كل يوم عشرة أنصاف مثلا يعطى ورقة يدفعها له فلا يعد إفرازا وكذا إذا أفرز له ولم يره اهـ
إعانة الطالبين الجزء الثانى ص: 201  دار الفكر
وعبارة الروض وشرحه وإن أعطى الإمام من ظنه مستحقا فبان غنيا لم يضمن لأنه غير مقصر ويجزىء عن المالك وإن لم يجزىء عن الزكاة كما نقله في المجموع ولهذا يسترد كما سيأتي والإجزاء عن المالك ليس مرتبا على بيان كون المدفوع إليه غنيا بل هو حاصل بقبض الإمام لأنه نائب المستحقين بخلاف إعطاء المالك من ظنه مستحقا فبان غنيا فإنه لا يجزىء وكذا لا يضمن الإمام ويجزىء ما دفعه دون ما دفعه المالك إن بان المدفوع إليه هاشميا أو مطلبيا أو عبدا أو كافرا أو أعطاه من سهم الغزاة أو العاملين ظانا أنه رجل فبان امرأة فيسترد الإمام في الصور كلها إهـ قوله ولا يضمن الإمام أي ما أعطاه لمن ظنه مستحقا لأنه غير مقصر قوله بل يسترد المدفوع أي إن بقي فإن تلف رجع الدافع عليه ببدله ودفعه للمستحقين وإذا كان
المجموع شرح المهذب الجزء التاسع ص: 258-259  المكتبة السلفية
(ولا يجوز بيع ما لا يملكه من غير إذن مالكه لما روى حكيم بن حزام أن النبى e قال “لا تبع ما ليس عندك” ولأن ما لا يملكه لا يقدر على تسليمه فهو كالطير فى الهواء أو السمك في الماء) (الشرح) حديث حكيم صحيح رواه أبو داوود والترمذى والنسائى وابن ماجه غيرهم باسانيد صحيحة قال الترمذى هو حديث حسن وقول المصيف من غير إذن يريد من غير إذن شرعى فيدخل فيه الوكيل والوالى والوصى وقيم القاضى فى بيع مال المحجور عليه والقاضى ونائبه فى بيع مال من توجه عليه أداء دين وامتنع من بيع ماله فى وفائه فكل الصور يصح فيها البيع لوجود الإذن الشرعى ويخرج منه إذن المحجور عليه لصغر أو فلس أو سفه أو رهن فإنه لو أذن لأجنبى فى البيع لم يصح مع أنه مالك وجملة القول في هذا الفصل أنه سبق أن شروط المبيع خمسة منها أن يكون مملوكا لمن يقع العقد له فإن باشر العقد لنفسه فشرطه كونه مالكا للعين وإن باشره لغيره بولاية أو وكالة فشرطه أن يكون لذلك الغير فلو باع مال غيره بغير إذن ولا ولا ية فقولان (الصحيح) أن العقد باطل وهذا يصه فى الجديد وبه قطع المصنف وجماهير العراقين وكثيرون أو الأكثرون من الخراسانيين لما ذكره المصنف وسنزيده دلالة فى فرع مذاهب العلماء إن شاء الله تعالى (والقول الثانى) وهو القديم أنه ينعقد موقوفا على إجازة المالك إن أجاز صح البيع وإلا لغا وهذا القول حكاه الخراسانيون وجماعة من العراقيين منهم المحاملى فى اللباب والشاسى وصاحب البيان وسيأتى دليله إن شاء الله تعالى فى فرع مذاهب العلماء
المجموع شرح المهذب الجزء السادس ص: 176  المكتبة السلفية
(فرع) قال أصحابنا لا يجوز للإمام ولا للساعى بيع شئ من مال الزكاة من غير ضرورة بل يوصلها إلى المستحقين بأعيانها لأن أهل الزكاة أهل الرشد ولا ولاية عليهم فلم يجز بيع مالهم بغير إذنهم فإن وقعت ضرورة بأن وقف عليه بعض الماشية أو خاف هلاكه أو كان فى الطريق خطر أو احتاج إلى رد جبران أو إلى مؤنة النقل أو قبض بعض شاة وما أشبهه جاز البيع للضرورة كما سبق فى آخر باب صدقة الغنم أنه يجوز دفع القيمة فى مواضع للضرورة قال أصحابنا ولو وجبت ناقة أو بقرة أو شاة واحدة فليس للمالك بيعها وتفرقه ثمنها على الأصناف بلا خلاف بل يجمعهم ويدفعها إليهم وكذا حكم الإمام عند الجمهور وخالفهم البغوى فقال أن رأى الإمام ذلك فعله وإن رأى البيع وتفرقه الثمن فعله والمذهب الأول قال أصحابنا وإذا باع فى الموضع الذى لا يجوز فيه البيع فالبيع باطل ويسترد المبيع فإن تلف ضمنه والله أعلم
الأنوار الجزء الأول ص: 155
ولا يجوز للإمام والساعى بيع الزكاة إلا لضرورة كالإشراف على التلف أو خطر الطريق أو الاحتياج إلى مؤنة النقل ولو كان الواجب شاة او غيرها لم يكن للمالك ولا للامام بيعها وقسمة الثمن علي المستحقين بل يجمعهم ويدفعها اليهم او الي واحد منهم بإذن الأخرين او من غيرهم بإذنهم ولو باع بطل إلا إذا تعذر جمعهم فيجوز البيع (قوله فيجوز البيع) أى من المالك والإمام للضرورة
بغية المسترشدين ص: 145
(مسئلة ج) الشركة الواقعة بحضر موت وهي ان يموت شخص ويخلف تركة فتستمر الورثة وفيهم المحجور والمرأة على ابقاء المال ويتصرف الأرشد فى ذلك ويأكل الجميع ويضيفون وقد يكون بعضهم أثقل من بعض وقد ينمو المال وقد يضمحل ويقع النزاع والتشاجر بينهم بعد باطلة على المذهب والملخص من ذلك ان يتفق الورثة مع بلوغ كل ورشده وعلمه بماله من غير غرر على أمر ويحصل الرضا وطيب النفس من الجميع فيجرى عليهم حكمه اهـ
حاشية الجمل الجزء الرابع ص 97
( قوله أيضا : هي لثمانية إلخ ) وعطفها بالواو دون ” أو ” لإفادة التشريك بينهم فيها فلا يجوز تخصيص بعض الأصناف الموجودين بها وقال الأئمة الثلاثة وكثيرون يجوز صرفها إلى شخص واحد ومال إليه الفخر الرازي وبسطوا الكلام في الاستدلال له بما رددته عليهم في شرح المشكاة ا هـ شوبري قال ابن عجيل اليمني ثلاث مسائل في الزكاة نفتي فيها على خلاف المذهب أي نقلد في نقل الزكاة ودفعها إلى صنف واحد ودفع زكاة واحد إلى شخص واحد ا هـ ق ل على التحرير
 

Meluruskan Silsilah Nasab Gus Dur

Di beberapa blog dan website di internet banyak beredar pemberitaan, bahwa Al Habib M. Luthfi adalah tokoh yang menyatakan bahwa Gusdur termasuk Haba’ib atau Sayid. Dalam pemberitaan itu disebutkan, “… sumber ini konon telah diteliti dan direstui oleh Rais ‘Am Jam’iyah Ahlith Thoriqoh Al-Muktabaroh An-Nahdliyyah oleh KH. Habib Lutfi Ali Yahya asal Pekalongan. Menurut sumber itu, nasab lengkap Gusdur adalah sebagai berikut :


KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur)
bin
KH. Abdul Wahid Hasyim
bin
KH. Hasyim Asy’ari
bin
KH. As’ari
bin
Abu Sarwan
bin
Abdul Wahid
bin
Abdul Halim
bin
Abdurrohman (P. Sambud Bagda)
bin
Abdul Halim (P. Benawa)
bin
Abdurrohman (Jaka Tingkir)
bin
Ainul Yaqin (Sunan Giri)
bin
Ishak
bin
Ibrohim Asmuro
bin
Jamaludin Khusen
bin
Ahmad Syah Jalal
bin
Abdulloh Khon
bin
Amir Abdul Malik
bin
Alawi
bin
Muhammad Shohibul Mirbat
bin
Ali Choli’ Qosam
bin
Alawi Muhammad
bin
Muhammad
bin
Alawi
bin
Ubaidillah
bin
Ahmad Al-Muhajir Ilallah
bin
Isa Arrumi
bin
Muhammad Annaqib
bin
Ali Al-’Uroidi
bin
Ja’far Shodiq
bin
Muhammad Al-Baqir
bin
Ali Zaenal Abidin
bin
Husein
putra
Siti Fathimah Az-Zahro
binti
Rasulillah, Muhammad saw

Berita itu dibantah oleh Al Habib M. Luthfi bin Yahya. Mursyid ‘Am Jam’iyyah Thariqah an Nahdhiyah itu mengklarifikasi, bahwa beliau hanya mengatakan kalau ibu Gusdur Ibu Hj. Nyai Sholichah Munawaroh binti KH. Bisri Sansuri adalah Syarifah. Akan tetapi karena dari jalur ayah, yaitu KH. Wahid Hasyim bukan Habib, maka Gusdur nasab Sayidnya terputus. Karena nasan sayid dari jalur ayah. Demikian disampaikan oleh Al Habib M. Luthfi pada pertemuan Rabitah ‘Alawiyah pusat di Jakarta, Minggu, 10/05.
Sumber: Misykat Lirboyo

WAHBAH AL-ZUHAILI dan USHUL AL-FIQH AL-ISLAMI-NYA

Al-Ustadz Prof. Dr. Wahbah bin Musthafa Al-Zuhaili lahir pada tahun  1932 M. di Dir Athiyah, sebuah distrik dari Damaskus, ibukota negara Syiria. Berpengalaman mengajar pada beberapa perguruan tinggi negara-negara Timur Tengah dan terakhir menjabat sebagai kepala Departemen Fiqh Islam dan Mazhabnya pada Fakultas Syari’ah dan Qanun Universitas Damaskus. Tumbuh di sebuah negara yang mayoritas memeluk madzhab fiqh Hanafi, Wahbah memulai pengembaraan keilmuannya dari latar belakang fiqh madzhab ini. Namun, kenyataan ini tidak lantas menjadikannya puas atas segala tradisi pemikiran madzhabnya. Terbukti, dalam beberapa hal, ia berbeda pemikiran dengan mayoritas sesamanya. Sebagai contoh adalah, ia tidak mengakui legalitas madzhab shahabat sebagai salah satu acuan penetapan hukum, sebagaimana dipahami kalangan Hanafiyyah. Tidak jarang, ia berbeda pandangan dengan gurunya sendiri, Abû Zahrah, dalam beberapa kasus permasalahan. Sikap independensi berpikir ini terlihat dengan tampilan karyanya, Ushûl al-Fiqh al-Islâmî, yang secara sistematis menampilkan setiap pendapat berikut argumentasi dasarnya, baik dari Al-Qur’an, al-sunnah, ijma’ atau hipotesa rasional. Selanjutnya dari beragam tampilan argumentasi tersebut, Wahbah mengambil sikap secara mandiri dengan menuturkan sebuah preferensi (tarjîh) dari hasil analisisnya, yang walau bagaimanapun, tentu saja tidak lepas dari subyektifitas.
Di antara karyanya yang lain adalah
  1. Al-Fiqh al-Islâmî wa Adillatuhu, sebuah karya ensiklopedik-komparatif di bidang fiqh;
  2. Nazhariyyat al-Dlarûrat al Syar‘iyyah (telah diterjemahkan ke dalam  bahasa Indonesia dengan judul Konsep Darurat dalam Hukum Islam);
  3. Atsar al-Harb fi Fiqh al-Islâmî (hukum seputar peperangan dan beberapa konsekwensinya);
  4. Nahdlariyat al-Dlamân (teori ganti rugi),
  5. Al-Nushûs al-Fiqhiyyah al-Mukhtârah, mirip kapita selekta hukum masalah kontemporer;
  6. Nizhâm al-Islâm, yang membahas sistem hukum ketatanegaraan Islam dan problema kontemporer negara-negara Islam;
  7. Al-‘Alâqat al-Duwaliyyah fi al-Islâm, mengupas tentang hukum-hukum internasional versi Islam,
  8. dan lain sebagainya.

Sumber :
* Hasjim Abbas, ”Pemikiran Wahbah al-Zuhaili”, Majalah Aula, edisi September 2003.

Surat Nabi Muhammad SAW

 Setelah Perjanjian Hudaibiyyah Rasulullah Saw memiliki kesempatan untuk berdakwah yang lebih luas. Beliau mengirimkan banyak surat kepada pembesar di berbagai negeri untuk menyeru mereka kepada Islam.

Pada zaman Rasulullah Saw ada golongan yang beragama Nasrani. Menurut Imam Ibnul Qayyim Al Jauzi, dalam Hidayatu Al-Hayara fi Ajwibati Al-Yahud wa An-Nashara, umat Nasrani pada masa Rasulullah sudah tersebar di sebagian belahan dunia. Di Syam, (hampir) semua penduduknya adalah Nasrani. Adapun di Maghrib, Mesir, Habasyah, Naubah, Jazirah, Maushil, Najran, dan lain-lain, meski tidak semuanya, namun mayoritas penduduknya adalah Nasrani.

Terhadap mereka, Rasulullah SAW senantiasa melakukan Dakwah, seperti yang pernah beliau lakukan kepada Raja Najasyi, seorang Raja Nashrani yang tinggal di Ethiopia. Rasulullah SAW pun mengirimi surat kepada Najasyi untuk bertauhid kepada Allah SWT. Berikut adalah pesan surat tersebut:

"Dari Muhammad utusan Islam untuk An-Najasyi, penguasa Abissinia (Ethiopia). Salam bagimu, sesungguhnya aku bersyukur kepada Allah yang tidak ada Tuhan kecuali Dia, Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Mengaruniakan keamanan, Yang Maha Memelihara, dan aku bersaksi bahwa Isa putra Maryam adalah ruh dari Allah yang diciptakan dengan kalimat Nya yang disampaikan Nya kepada Maryam yang terpilih, baik dan terpelihara. Maka ia hamil kemudian diciptakan Isa dengan tiupan ruh dari-Nya sebagaimana diciptakan Adam dari tanah dengan tangan Nya. Sesungguhnya aku mengajakmu ke jalan Allah. Dan aku telah sampaikan dan menasihatimu maka terimalah nasihatku. Dan salam bagi yang mengikuti petunjuk."

Ketika Rasulullah Saw menulis surat kepada Raja Najasyi untuk menjadi seorang muslim, maka Raja Najasyi mengambil surat itu, beliau lalu meletakkan ke wajahnya dan turun dari singgasana. Raja Najasyi  lalu mengirimkan surat kepada Rasulullah Saw dan menyebutkan tentang keislamannya. Beliaupun masuk Islam melalui Ja’far bin Abi Tholib ra.

Raja An-Najasyi akhirnya meninggal dunia pada bulan Rajab tahun ke-9 Hijriyyah. Rasulullah Saw memberitakan hal itu pada hari wafatnya lalu melakukan shalat ghaib untuknya. Beliau juga mengabarkan bahwa Raja An-Najasyi kelak akan masuk surga.

Rasulullah SAW juga pernah melakukan perperangan terhadap kaum Nashrani. Hal ini bermula ketika salah satu surat beliau telah dibawa oleh Harits bin Umair ra. yang akan diberikan kepada Raja Bushra yang Nashrani. Ketika sampai di Mu’tah, maka Syarahbil Ghassani yang ketika itu menjadi salah seorang hakim kaisar telah membunuh utusan Rasulullah SAW. Membunuh utusan, menurut aturan siapa saja, adalah suatu kesalahan besar. Rasulullah SAW sangat marah atas kejadian itu.

Maka Rasulullah SAW menyiapkan pasukan sebanyak tiga ribu orang. Zaid bin Haritsah ra. telah dipilih menjadi pemimpin pasukan tersebut. Rasulullah SAW bersabda, "Jika ia mati syahid dalam peperangan, maka Ja'far bin Abi Thalib ra. menggantinya sebagai pemimpin pasukan. Jika ia juga mati syahid, maka penlimpin pasukan digantikan oleh Abdullah bin Rawahah ra. Jika ia juga mati syahid, maka terserah kaum muslim untuk memilih siapa pemimpinnya".

Senin, 26 Desember 2011

Mempercepat Kelahiran

         KELAHIRAN 111111
Deskripsi masalah
111111 adalah nomor cantik sekaligus unik yang melambangkan tanggal sebelas bulan sebelas (November) dan tahun 2011. Setiap orang pasti ingin mengabadikannya dalam momen tertentu. Tak terkecuali pasangan muda-mudi yang sengaja merayakan akad pernikahannya di tanggal tersebut dengan memakai mahar Rp. 111.111 dan segala sesuatu yang bertema 111111. Tidak hanya itu, fenomena 111111 yang terjadi tiap satu abad ini juga dimanfaatakan ibu-ibu hamil agar bisa melahirkan anaknya tepat di tanggal cantik itu.
Masih dalam tanggal 111111, kebetulan atau tidak, ada suatu kasus nyata yang menarik perhatian. Di suatu daerah terdapat sepasang suami istri yang secara dzahir mereka adalah 'afifah (tidak pernah berdosa besar). Setelah akad nikahnya lima bulan setengah yang lalu, tepat pada tanggal 111111 sang istri melahirkan. Istri tersebut bersumpah bahwa ia tidak pernah berhubungan badan selain dengan suaminya. 
Pertanyaan
a.     Bagaimana hukum menyengaja melahirkan anaknya tepat di hari 111111 dengan cara paksa semisal dengan operasi caesar?
Jawaban
Haram, karena keinginan memiliki anak berkelahiran tanggal 111111 bukanlah termasuk hajah muhimmah  (suatu kebutuhan yang mendesak) yang memperbolehkan pelaksanaan operasi caesar.

REFERENSI
1. Fatawa Al Asyhar Juz 2 Hal 177
3. I’anatuttholibin Juz 4 Hal 178
2. Mugni Al Muhtaj Juz 4 Hal 296
4. Hamisy Bughyatul Mustarsyidin Hal 251